Pagi-pagi, termos air panas jatuh tersenggol tangan, dan kaca pelapis dalamnya hancur berantakan. Saya kesal, mengapa saya sampai ceroboh seperti itu. Tapi rupanya itu pertanda, karena tak lama kemudian kakak saya telepon mengabarkan ibu muntah darah lagi. Masya Allah.. Langsung kegiatan hari itu ditinggalkan dan saya diantar suami ke rumah orang tua. Dalam perjalanan, saya ingin menangis krn berarti sudah 2 kali ibu saya spt ini. Yg pertama, sebulan lalu, akhirnya ibu harus dirawat 1 minggu di rumah sakit. Lambungnya luka krn maag akut. Tambah lagi fungsi ginjalnya menurun. Ah, mudah2an kali ini tidak separah itu. Tak tega melihat ibu harus dipasangi selang lewat hidung dan diinfus bbrp hari.
Ibu muntah darah lagi setelah saya sampai ke sana. Ya, Allah.. saya ga kuat melihatnya. Antara prihatin dan mual jd satu. Saya jadi pening sekaligus meneteskan air mata. Ga tunggu lama, kami memutuskan langsung di bawa ke UGD RS lagi. Penanganan lebih cepat dengan harapan tidak parah spt kejadian pertama, yg muntah darahnya sudah 2 hari.
Ada satu kejadian di UGD yang bikin ibu, saya dan keluarga yg melihat, mendapat hikmah masing2. Seorang perempuan tua terbaring spt tidur di ruangan yg berbeda, sendirian tanpa ada yg menemani, saat ibu saya masuk ke UGD. Lalu kami tidak begitu memperhatikan, sampai suatu saat keponakan saya bisik2 klo si perempuan tua tadi itu tidur atau sudah meninggal, krn tarikan nafasnya tidak terlihat dan mukanya sudah pucat. Rupanya hal ini diketahui seorang perawat dan tampak panik memanggil dokter, dan langsung berlari keluar mencari keluarga si perempuan tua itu.
Lalu terpampang adegan siaran langsung penyelamatan jiwa seseorang. Dokter, bbrp perawat dan suami si perempuan tua itu berusaha sekuat tenaga memberi pertolongan. Seperti adegan di film2, tp melihat langsung spt itu membuat hati saya mencelos. Ga kuat, saya keluar ruangan UGD. Di luar rumah sakit keadaan ramai, tp entah kenapa sy merasa sendirian. Nangis. Kejadian hari ini membuat saya lemah dan rapuh. Semua fikiran buruk bertebaran di kepala. Apalagi kemudian diketahui, nyawa perempuan itu tidak bisa tertolong. Innalillahi…
Setelah diperiksa dokter jaga di UGD, Ibu saya diperbolehkan pulang dan diberi obat antibiotik untuk lambungnya. Alhamdulillah. Ternyata kejadian perempuan tua itu justru membuat ibu saya punya semangat hidup. Yg tadinya kepayahan bgt, sebelum diperiksa dokter malah jadi berasa sehat. Mual, lemas dan pusingnya hilang seketika. Subhanallah. Rupanya, usaha dan doa kami dikabulkan Allah dengan cara yg tidak disangka-sangka.***
ilustrasi: fotosearch.com
Tuesday, April 7th, 2009 at 12:34 pm | category: Curhat Ortu | Tags: maag, sakit, UGD
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.






alhamdulillah, Ibunya sudah sembuh ya Mbak.
semoga semua hal bisa kita ambil hikmahnya. amin.
[...] pendarahan dan perutnya mulai sakit lagi. Segera ke dokter penyakit dalam yang sebelumnya merawat sakit ibu. Ternyata ibu harus dirawat lagi. Dan kali ini agak berat penanganannya, sampai harus transfusi [...]
[...] cukup memberikan yg terbaik untuk saya dan kakak-kakak. Ibu bisa beristirahat dengan tenang dari sakit liver selama [...]
sudah, makasih ya.. amin