Prakarya Anak dan Masalahnya

pro corbisTingkatan sekolah dasar memberikan tugas prakarya, menurut saya adalah tugas yang bermanfaat untuk anak didik menjadi kreatif dan mandiri. Tapi pada prakteknya, justru orang tua terutama para ibu yang dibuat sibuk. Selain ‘dipaksa’ menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan, bahkan bisa jadi sekalian yang membuat tugas prakarya itu karena anak-anak tidak bisa atau alasan lainnya. Walhasil si anak tinggal terima jadi :D .

Prakarya yang Lebih Bebas
Jenis prakarya atau kerajinan tangan yang selama ini La dan Na dapatkan dari sekolahnya, memang menuntut mereka untuk membuat sesuatu menurut contoh buku atau langsung dari gurunya. Seperti anyaman kertas/pita yang lalu dibuat kotak atau ikan-ikanan, menyulam, membuat bunga dari benang wol dan kawat. Tugas seperti ini kalau anak-anak tidak bisa, otomatis ibunya yang harus bisa untuk mengajarinya.

Pernah juga mereka dapat tugas membuat kartu ucapan atau menggambar (pakai cat air atau kertas warna). Dan saya lebih mendukung tugas prakarya seperti ini atau prakarya yang lebih bebas lainnya karena anak-anak jadi bisa luas berekspresi dan kreatifitasnya bisa muncul. Sayapun akan memotivasi La dan Na untuk lebih percaya pada diri, menyukai hasil karyanya sendiri. Kalau mereka mentok, baru saya beri arahan atau cara mencari ide atau mengejakannya menjadi lebih mudah.

Membantu dan Resikonya
Beruntunglah saya, karena sewaktu masih single dulu senang mencoba berbagai kerajinan tangan. Mulai menyulam, kruistik, anyaman, bikin bunga dari berbagai bahan dll. Jadi begitu La dan Na dapet tugas prakarya yang sejenis, dengan bangga (cieh!) saya bisa mengajari mereka cara membuatnya.

Terkadang, karena berbagai alasan seperti waktu pengumpulan tugas terbatas, La dan Na yang nggak bisa atau mereka ada les atau pe-er yang banyak, mau tidak mau sayalah yang menyelesaikan tugas prakarya itu :P .

Pernah suatu saat, tugas membuat anyaman bentuk kotak punya La, saya yang mengerjakan. Di lain waktu, setelah tugas itu dikumpulkan, La diminta gurunya ikut lomba menganyam mewakili sekolahnya, karena gurunya menilai hasil anyaman La adalah yang terbaik. Gubrak! La pun bingung, saya tak kalah panik. Beruntung waktu lomba masih satu minggu, langsung La mendapat kursus intensif membuat anyaman dari saya. Urutan pekerjaan pun saya tulis biar lebih jelas. Lalu saatnya tiba, begitu pulang lomba, La optimis bilang bisa dan selesai dengan sukses. Beberapa hari kemudian, dapet pengumuman kalau karya anyaman La dapet juara 2 dari seluruh SD se-kecamatan. Alhamdulillah..

Atau waktu La dapat tugas membuat ikan-ikanan dari pita jepang, beberapa temannya khusus datang ke rumah minta diajari cara membuatnya. Mereka, termasuk La kurang mengerti membaca petunjuk gambar di buku. Tanpa malu-malu, La bilang kalau tugas dia yang membuat adalah ibunya. Sayapun didaulat mempraktekkan di depan teman2nya hehe..

Monday, February 16th, 2009 at 11:50 am | category: Problem Anak |
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Responses to “Prakarya Anak dan Masalahnya”

  1. salma dienta salsabila says:

    cotoh prakarya dari barang bekas dan tolong kirimin prakarya bagus

  2. bundapreneur says:

    bersyukur yah, kita masih bisa membantu membuat prakarya…inget adik saya di luarnegeri yang menangis karena ga bisa bantu anaknya, karena dia dari dulu memang ga suka dengan segala jenis bikin craft. Kata dia, seandainya dekat, bisa minta tolong saya…duhhduhh duhh

    • yna says:

      iya mom, kadang kita ga pernah tau sesuatu yg dikerjakan saat itu ternyata bs bermanfaat tuk saat ini. terus belajar dan berilmu jd kuncinya ya.. salam tuk keluarga :)

Leave a Reply